meaning of life

Allah menguji hamba-Nya dengan cara yang paling unik, apabila menjadikan kekurangan itu juga satu anugerah..

setiap kali duji bisikkan ke hati.. ALLAH sedang mendidik, bukankah itu bererti ALLAH menyayangi mu?

ALLAH tidak melupakanmu..

kenang DIA dalam setap ujian-NYA!


betapa banyak kepahitan masa lalu menjadi sangat manis pada masa sekarang...

ingat hakikat itu wahai diri yang sedang menangis pada hari ini..

ilmu kita yang terbatas tidak akan dapat menjangkau ilmu ALLAH yang maha luas!


belajar dari kesilapan masa lalu, cinta pada tugasan masa kini, bersangka baik pada masa akan datang...

INSHAALLAH akan ada senyuman di hati dan bibirmu.. :)




"Then when you have taken a decision, put your trust in Allah."
[ Surah Al-'Imran ; 159 ]

"Anyone whom Allah intends good, HE makes them to suffer from some affliction (test/pain)"

-Riwayat Al-Bukhari

It takes some pain to have those wonderful miracle and gift. Allah is listening to you you and you! HE KNOWS, EVERY SINGLE THING... ;)


Thursday, September 19, 2013

rindu pada-MU



Di keheningan malam ini, entah keberapa kali aku terjaga dari lena yang seketika. Entah  mengapa hatiku dipagut kehibaan. Kehibaan yang sangat mencengkam sanubari. Jauh di sudut hatiku, berbaur kesedihan yang teramat. Tidak dapat diungkap perasaan ini dengan kata-kata. Walau seindah mana kata-kata masih tetap tak dapat digambarkan apa yang aku rasakan. Diriku sebenarnya merinduimu ya Rasulullah. Ya, teramat merinduimu.
Setiap detik ku teringatkan dirimu. Mendengar alunan selawat oleh kumpulan Hijjaz yang menjadi santapan halwa olehku di Laptop, membuatkan hati bertambah di pagut rindu padamu. Setiap kali mata singgah pada Surah Muhammad, mengalir air mataku.
Lagi bertambah hiba apabila terkenangkan saat dirimu berhadapan dengan sakaratulmaut, terngiang-ngiang katamu, “Ummati… ummati… ummati…” Ya Rasulullah, andai dirimu masih hidup, pasti dirimu kecewa, bersedih dengan keadaan umatmu zaman ini. Setiap kali teringatkan dirimu pasti deraian air mata yang menemani malamku kerana mengenangkan perjuanganmu Ya Rasulullah.
Ya Rasulullah, aku tidak tahu di mana harus ku salurkan rindu ini selain mengadu pada Sang Pencipta Cinta. Lantas, ku titipkan kalam bisu ini khas buatmu, supaya aku bisa berkongsi dengan mereka di luar sana, menyatakan betapa diriku ini ingin berjumpa denganmu. Tidak melampau untuk ku katakan bahawa aku punya mimpi.
Ya, aku menyimpan sebuah harapan besar ya Rasulullah.
Kelak, ketika di Yaumul akhir.
Engkau ibaratnya adalah seorang idola, superstar yang berdiri di atas kemegahan sebuah panggung. Sedangkan aku, dengan segala kekerdilanku berada di antara deretan para penonton dan aku akan memanggil engkau jauh di sudut sana, di antara jutaan lautan manusia.
Aku akan berteriak: Ya Rasulullah, Ya Rasulullah!!!
Aku berharap. Aku sungguh berharap.
Engkau akan menoleh ke arahku, dan berkata “Itu umatku!” “Itu umatku!”
Mungkin tidak tergambar betapa gembiranya perasaan ku pada waktu itu, tatkala melihat wajahmu. Sungguh aku ingin ya Rasulullah.
Aku ingin menjadi sebahagian dari barisan panjang umat yang mendapatkan syafaatmu.
Aku ingin menjadi sebahagian dari umat yang tersenyum berdiri di belakangmu,
Namun, adakah aku layak ya Rasulullah?
Layakkah aku melihat wajahmu?
Atau pantaskah aku melihat senyumanmu?
Sedangkan aku ini bukan siapa,
Yang hanya insan lemah, penuh dengan keluh kesah.
Ya Rasulullah,
Walau aku tahu aku tidak layak, namun dengan bertatih aku tetap ingin menitipkan rindu ini untukmu.
Ya Rasulullah,
Walau aku tahu ini tidak mudah, namun dengan segala kelemahanku aku akan mengikuti jalan juangmu. Yang aku tahu memang penuh liku likunya.
Ya Rasulullah,
Walau aku tahu ini akan sulit, namun aku ingin turut menjadi pembela-pembela Allah dan Rasulku. Aku ingin menjadi seorang mujahidah di jalan ini, tidak gentar dan tidak lemah
Ya Rasulullah,
Saksikanlah aku yang akan tertatih untuk mempertahankan istiqamahku,
Demi cintaku pada Allah, demi cintaku padamu Ya Rasul.
Ya Rasulullah,
Aku teringin sekali berbicara denganmu tentang kisah-kisah perjuanganmu dalam menegakkan kalimah Allah.
Aku ingin berkongsi suka, duka, airmata dan luka yang dirimu alami sepanjang 23 tahun taklifatmu sebagai Rasul.
Tidak tegar aku melihat betapa susahnya kamu berjuang di medan dakwah ini. Tidak sanggup aku mendengar celaan kaum musyrikin menghina perjuanganmu Ya Rasulullah.
Pedih perasaanku mendengar dirimu luka dilempar batu semasa berdakwah di Taif. Aku ingin berbicara kisah yang aku tahu ini kepadamu.
Aku ingin melafaz rindu ini kepadamu. Bahawa aku sangat mencintaimu.
Ya Rasulullah,
Bumi Madinah ingin sekaliku jejak. Ingin sekali ku rasai deruan angin di bumi bertuah itu. Tatkala dirimu dan para sahabat berjuang berhabis habisan, mempertahankan Islam tercinta. Ku ingin melewati medan syuhada dan perjuanganmu di sana.
Moga Allah memberi rezeki untuk itu dan perkenankan permintaanku.
Rindu kami padamu Ya Rasul,
Rindu tiada terperi,
Berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini.
Salam Bahagia Bagimu, Ya Rasullullah.



L.O.V.E



Marilah kita hayati dan amalkan doa ini. Semoga doa Nabi Daud A.s ini memberi kita semangat dan teguh dalam mencinta Allah SWT sepenuh hati kita melebihi cinta kepada makhlukNya. “ Ya Allah, kurniakanlah daku perasaan cinta kepada-Mu, dan cinta kepada orang yang mengasihi-Mu, Dan apa sahaja yang membawa daku menghampiri cinta-Mu. Jadikanlah cinta-Mu itu lebih aku hargai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan, Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, Dan cinta orang yang mencintai-Mu serta cinta yang dapat mendekatkan aku kepada cintaMu, Ya Allah, apa sahaja yang Engkau anugerahkan kepadaku daripada apa yang aku cintai, Maka jadikanlah ia kekuatan untukku mencintai apa yang Engkau cintai. Dan apa sahaja yang Engkau singkirkan daripada apa yang aku cintai, Maka jadikanlah ia keredaan untukku dalam mencintai apa yang Engkau cintai, Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu sesuatu yang paling aku cintai daripada cintaku kepada keluargaku, hartaku dan air sejuk pada saat kehausan. Ya Allah, jadikanlah aku mencintai-Mu, mencintai malaikat-Mu, Rasul-Mu dan hamba-Mu yang soleh, Ya Allah, hidupkanlah hatiku dengan cinta-Mu dan jadikanlah aku bagi-Mu seperti apa yang Engkau cintai, Ya Allah, jadikanlah aku mencintai-Mu dengan segenap cintaku dan seluruh usahaku demi keredhaan-Mu.” (Hadis riwayat At-Tarmizi) Rasulullah SAW bersabda, “Inilah doa yang biasa dipanjatkan oleh Nabi Daud a.s.”

Sunday, September 8, 2013

life...

Wahai anakku, Ingatlah ALLAH membuat dunia ini berputar. Ketika burung hidup, semut adalah makanannya. Tapi apabila burung mati, semut memakannya pula. Sebatang pokok boleh dijadikan berjuta mancis. Tapi hanya sebatang mancis untuk membakar berjuta pokok. Wahai anakku, Keadaan boleh berubah dalam sekelip mata... jangan sesekali menyusahkan atau melukakan seseorang di hidup ini. Ingatlah engkau mungkin berkuasa hari ini tapi masa adalah lebih berkuasa daripada engkau.



Friday, August 16, 2013

muhasabah


Muslimah, janganlah menjual maruah dan menjadi pengemis cinta lelaki Buat gadis muslimah, berusahalah meminta ibubapa menikahkan kalian sebelum tiba saat kalian menjadi gadis yang hilang pedoman lalu menayang diri dan kecantikan yang Tuhan beri untuk menarik perhatian sang lelaki. Allah berfirman ; وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى "Janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33] Sesungguhnya Allah menjadikan lelaki dan perempuan saling memerlukan, melalui nikah maka seks atau jimak itu hukumnya halal dilakukan sebagai jalan penerus keturunan tetapi janganlah menunjukkan diri kalian terlalu ghairah dan menzahirkan hasrat seolah-olah terlalu gersang dan mahu disetubuhi sesecepat mungkin oleh mana-mana lelaki. Rasulullah salallahualaihiwassalam bersabda ; اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ 'Malu itu tidaklah datang melainkan dengan membawa kebaikan.' [Riwayat al-Bukhari] Di dalam riwayat Muslim ada menyebut lafaz,'Malu itu semuanya adalah kebaikan.' Jubah yang dipakai dipilih yang dapat menarik perhatian lelaki, make-up, biji mata besar, maskara, lentik bulu mata, gambar bergaya yang menggoda untuk apa jika bukan untuk mengemis cinta sang lelaki ? Saat bumi Mesir sedang dihujani darah, Syria berkecamuk perang dan dunia Islam sedang dalam keadaan bimbang, engkau masih boleh berbicara soal rahsia hati, jodoh rusuk kiri-kanan, depan-belakang, bakal sang imam dan berpuisi mahu menjadi bidadari si jantan yang tertarik kepadamu kerana tergoda melihat wajah cantikmu di Fb. Tahukah engkau, statistik perceraian pasangan muda sangat tinggi ? Lantaran 'expectation' sebelum kahwin bagaikan mimpi. Jika si jejaka itu kau berhasil miliki hanya dengan 'meletak' gambar cun, maskara, dan posisi menggoda serta gedik manja yang dibuat-buat.... Masakan orangnya adalah seperti Salahuddin al-Ayubi... Mustahil Muhammad al-Fatih atau pengikut sunnah nabi... Setelah dia merasa apa yang kau punya, melihat apa yang engkau ada, tidak tahan dengan apa yang kau tiada, adakah dia masih boleh bersabar disisi engkau mendidik dan menanggung dirimu sebagai bebanannya ? Jika ya, alhamdulillah...Mungkin dia mahu berubah jika tidak, alamatnya engkau akan ditimpa musibah... Muslimah, janganlah mengemis cinta lelaki dengan 'body' yang engkau punyai... Ianya pinjaman dari Tuhan agar engkau sedar diri !

Thursday, June 13, 2013

sebuah puisi buat palestina..


Ketika bintang malam bertebaran di angkasa. Ketika hening nya malam mendingin kan suasana. Ketika semilir angin malam, berhembus menusuk tulang mu. Dan ketika gelapnya malam, mengiringi tidur nyenyak mu. Ketika itu juga... Puluhan rudal di angkasa menghujani singgasana mu. Suara senjata yang menggelegar, seakan menghantui mu. Hanya suara tangis penderitaan, yang terdengar di sekitar mu. Ketika pagi menjelang... Saat mentari pagi tersenyum mengawali hari. Saat itu juga, kau awali hari di dalam belenggu ini. Saat embun pagi mendingin kan sanubari. Saat itu juga, pengikis hati yang kau dapati. Sahabatku, Palestina... Berpuluh-puluh tahun kau hidup dalam belenggu zionis. Berpuluh-puluh tahun kau merasakan penderitaan yang tiada habis. bilakah kah akhir dari semua ini? Sahabatku, Palestina... Aku berdoa tiada habisnya kepada sang pencipta. Agar kau bisa merasakan indahnya kebebasan di dunia. Agar kau bisa berdiri kukuh layaknya bangsa-bangsa lain. Agar kau juga merdeka dan lepas dari belenggu ini. Semoga jasad-jasad yang telah pergi itu, bahagia di surga Allah. Semoga darah yang ada disana, akan menjadi lautan jernih disurga. Dan semoga penderitaan ini, akan segera menjadi kebahagiaan mu. Hanya do'a tulus yang bisa aku panjatkan untuk mu. Untuk Sahabatku, Palestina...

rindu widya-cerpen


“What was I told you last time?” “Why won’t you hear?” “I thought I’ve warned you.” “I’m not saying this because of jealousy or being ridiculous or what so ever… but because…” Hari ini 27 Januari 2013; Najihah tunduk memandang lantai tanah yang tidak lagi ditutupi salji tebal. Dia baru sahaja melepasi lorong itu. Terdengar-dengar suara dua orang yang bertengkar dari dalam sebuah rumah. Langsung, dia teringat pada sesuatu. Langkahnya kini sudah jauh meninggalkan kenangan hampir tujuh tahun yang berlalu. Waktu itu, atmosfera dingin langsung tidak terasa. Angin dingin dari Rusia yang datang seolah-olah melukakan sebuah persahabatan. Sahabat sejati itu terputus hubungan hanya kerana sebuah teguran. Kini, baru hatinya melihat. “Kau memang celik mata, tapi kelabu hati.” Tegur Widya. Ketawa kecil lagi, entah apalah yang dia fikirkan. Tangannya ligat membuka sarung aiskrim ‘cornetto.’ “Kelabu hati tak apa lagi asal jangan buta hati.” Balas Najihah laju. Tersinggung agaknya dengan Widya. Tetapi tidak meminggirkan tangannya untuk menyambut aiskrim huluran Widya. “Aduhai Naj, kelabu hati itu lebih bahaya. Bila-bila boleh menghitam. Bila hati hitam, butanya tak pakai ‘standard.’ Gelap terus. Nah, jadinya mana yang lebih sulit? Mencuci cermin yang kelabu atau cermin yang hitam berkarat?” Bidik Widya. Najihah bisu seketika. “Yang sebetul-betulnya apa Widya? Kau buat aku nampak salah tapi aku sikit pun tak tahu apa yang kau nak cakap sebenarnya.” Akhirnya Najihah bersuara. Bingung dengan suku kata yang melintas sekejap-sekejap di kepala. Widya memang selalu begitu. Menegur tak pernahnya jelas. “Tak ada salahnya Naj, kalau kau juga mula menyukai seseorang. Tapi janganlah riak perasaan itu sampai menutup hati kau untuk mengenal diri dia yang sebenar-sebenarnya. Baik kau, aku dan kawan-kawan kita yang lain, semuanya tahu bagaimana diri dia yang sebenarnya. Aku tak kata dia tak baik, dan aku tak kata yang kau salah. Tapi kalau dah sampai membilang-bilang soal ibadah, soal yang benar apa lagi yang salah, mana mungkin aku diamkan saja.” Tutur Widya panjang lebar. Beremosi bunyinya. Najihah jadi lebih diam daripada tadi. Hati dan kepala dah mula rasa tak sekata. “Maksudnya apa ni Widya? Aku tak faham langsung apa yang kau kata.” Najihah bingung. Kata-kata Widya seolah-olah menumbuk-numbuk dinding kepalanya. “Lelaki yang kau suka itu, sudahkah kau ikhlas dengan diri kau? Sudahkah kau tanyakan diri kau? Atas sebab apa kau sukakan dia Naj? Sebab dia menayangkan yang dia ambil berat tentang kau? Dengan cara apa? Ayat-ayat manis atau kerana dia pernah mengirim ubat saat kau jatuh tak sihat lama dulu? Atau kau terlalu suka dengan wajahnya yang selalu dia maniskan untuk kau? Tapi di belakang kau, pernahkah kau dengar betapa ramainya sahabat-sahabat yang selalu terasa dengan bahasanya dan lagaknya yang tak bersopan? Selama kau mengenal dia, berapa berat nasihatnya pada kau yang menyuruh taatkan agama? Meski kau tak pernah keluar berdua, sudah berapa jauh interaksi kalian?” Jelas suara Widya. Tidak berapa lama kemudian dia berhenti sejenak. Mengambil nafas barangkali. Najihah dah mula rasa tak selesa. Widya menyambung. Sepertinya, ini sahajalah peluangnya untuk membuka mulutnya kepada Najihah. “Khayalnya kau itulah yang aku takutkan. Seolah-olah hanya dia sahaja lelaki yang ada hanya kerana dia ingin mengenal kau. Aku tahu Naj, setiap orang pasti inginkan cinta untuk dirinya. Tetapi adakah Dia redha dengan jalan yang kau pilih ini? Jika kau tak nampak lagi, nah aku dah pun sampaikan. Maaf Naj, mungkin kasar pada kau. Tapi jika sehari-hari teguran perlahan aku kau tak hiraukan, apa lagi pilihan yang aku ada? Dan percayalah Naj, kau bukanlah satu-satunya. Ya, mungkin satu-satunya untuk dijadikan sebagai teman hidup, kerana kau istimewa. Sedangkan yang lain, tak berbatas lagaknya dia.” Najihah tergamam. Widya dirasakan mengasaknya dengan tujahan melampau waktu itu. Suaranya langsung tertahan. Tak terbela jadinya dia. Disebabkan kebenaran-kebenaran itu lah, ‘Friendship seems to has been lost into the thin air’. Baik dia mahupun Widya, masing-masing idtak pernah menyebut sengketa. Tetapi berakhirnya langkah kaki di petang bersalji itu, masing-masing beku bak bongkah batu. Widya hanya membawa kaki melangkah. Pandangan dah ditala ke bermacam arah. Najihah pula gayanya semacam tak mahu mendongak lagi. Apa yang dia ingat selepas hari ketiga kejadian, waktu dia ingin memanjangkan maaf, Widya sudah tiada lagi di biliknya. Entah bila sahabat itu pergi pun dia tidak sedar. Yang tinggal hanyalah sekeping kertas jingga yang dilekatkan di kepala katil temannya itu yang bertulis: “Tak perlu kemaafan, kerana kita bukan sengketa. Aku tinggalkan kau dan seluruh kenangan kita bersama di sini. Aku harus pulang ke Acheh. Orang tuaku meninggal. Rumahku dan perusahaan tak lagi damai. Tak mungkin untuk aku terus sambung di sini. Salam sayang daripada aku; Widya.” Pada hari yang sama Najihah merasakan betapa kecilnya dunia tanpa Widya dan kata-katanya, dia ternampak pula lelaki itu beramai-ramai dengan sahabat sekuliahnya. Entah apa kejadiannya, kelihatan seorang perempuan yang entah dari mana datangnya menepuk lelaki itu tanpa silu segan. Kejutannya bukan itu, tetapi bila melihat dia yang kembali mengejar perempuan itu sambil menarik tapak tangan perempuan itu dan mencubit tangannya. Hah… saat itu, pucat dirasakan seluruh wajahnya. “Biar benar dia?” Najihah hilang kata berminggu lamanya. Puas merenung dan membising pada diri. Marahnya pada diri lebih kepada rasa kesalnya kerana menyia-nyiakan seorang sahabat hanya kerana suatu teguran. “Mengapa boleh jadi begini? Walhal, aku sendiri yang mengiyakan perubahan diri.” Getusnya dalam hati. “Agaknya ini balasan untuk orang sombong macam aku. Baru dua semester mengikut usrah, baru dua semester menelan pengertian, aku sombong dengan ilmu. Seolah-olah dah mula rasa yang diri sudah baik. Yakin sangat dapat bezakan yang baik dengan yang salah konon. Sampaikan ujian datang di depan mata aku langsung tak perasan.” Bebelnya lagi dalam hati. Itu kisah tujuh tahun lalu… Kini, dia seorang jurutera di sebuah menara terbilang, dan kunjungannya ke Birmingham pada tarikh yang sama dia mengunci suara bersama Widya dahulu adalah disebabkan oleh ‘site visit’ yang terletak tidak jauh dari lorong yang dilalui mereka dahulu. Jauh di sudut hatinya dia terlalu rindu pada Widya. Dia mahu Widya tahu yang nasihatnya dulu langsung tak memecahkan hubungan. Bahkan, semakin deras dia mengirim doa buat sahabatnya itu. Dia juga tidak mahu lagi hilang tempat berpijak hanya kerana meninggikan ilmu saban waktu. Paling penting, ada sesuatu lagi yang Widya tinggalkan buat dirinya. Kertas berlipat bintang yang tak pernah dia tahu tertulis sesuatu di bahagian belakangnya. “Cintai Tuhanmu dahulu dan akrablah bersamanya dengan jalan-jalan yang ada. Bila kau menjaganya, Dia akan menjaga kau nanti. Mudah-mudahan akan Dia titipkan seorang yang lebih bagus untuk menjaga kau suatu hari nanti.”

Sunday, May 26, 2013

ada bahgia untuk Azalea...


azalea menyeka tangis. Ada cemburu. Ada sesal. Ada persoalan-persoalan yang tak terjawab dek logik akal manusia. Ada amarah pada sebuah kisah duka. "azalea, luahkan pada Allah tentang apa yang masih membelenggu jiwamu. Jika azalea perlukan ibu, ibu sedia mendengar dan menasihat mana yang perlu," suara tua itu bagaikan datang tepat pada masa jiwa terluka azalea memerlukan. azalea diam. Ada lara yang ingin dikongsi. Entah apa yang dimahukannya, dia pun tidak mengerti. Ibu tua itu datang mendekat, memeluk azalea erat-erat. Pelukan penuh kasih sayang yang mengundang kembali tangis azalea yang sudah pun bersisa tadi. "azalea, seharusnya tangis itu azalea hadiahkan pada Allah sebagai tangis sesal, tangis taubat atas kesilapan lalu. Biar tangis itu dihitung oleh Allah buat bekal ke Syurga nanti, sayangku" azalea yang kian tak malu melepaskan sendu cuba mengawal emosinya. "Ceritakan pada ibu. Mana tahu ibu dapat membantu?" pujuk ibu tua itu sambil mengusap-usap kepala azalea. azalea menceritakan kisahnya. Sesekali azalea terdiam cuba mengawal tangis daripada turun meluru laju kembali. Ibu tua itu setia mendengar, sesekali mengusap-usap belakang azalea. Biar azalea melepaskan segala yang terbuku di hatinya. Lalu azalea mengakhiri kisahnya dengan kata lafaz penuh sendu.. "... Dan begitulah berakhirnya sebuah kisah duka".. Matanya berkaca. Ada riak kecewa pada sebuah perjalanan kehidupan yang cukup mencabar sabar dalam jiwanya. Ibu tua itu lantas memegang tangan azalea sambil berkata penuh makna, "azalea, sebuah pengalaman duka sememangnya harus diakhiri supaya dapat kita semua mula melangkah untuk memulakan coretan kisah-kisah bahagia yang baru" "Akan adakah bahagia untuk azalea?", katanya naif, masih tak lepas meayan emosinya. "Terpulanglah.." "Terpulang pada sejauh mana azalea yakinkan kasih sayang Allah. Bergantung pada sejauh mana azalea bersangka baik pada Allah" "Allah...", terpacul sebuah nama indah dari bibir azalea. Satu nama yang dimiliki satu zat yang Maha Berkuasa lagi Maha Berkehendak. Satu Zat Yang PengetahuanNya tiada langsung tandingan. "Izinkan hati azalea untuk melihat kembali dunia yang penuh dengan kebahagiaan dan keindahan. Izinkan kecintaan itu masuk menusup kembali dalam jiwa. Segalanya ada di tangan azalea," kata-kata ibu tua itu bagaikan berdesing di telinganya. azalea tahu, pasti bukan mudah. "Tak salah untuk mencuba, kan?" ujar ibu tua itu lagi seakan-akan dapat membaca apa yang sedang bermain di fikiran azalea. azalea mengangguk. Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu dihembuskan segala baki kesedihan yang entah dari mana kembali datang menjengahnya tadi. "Astaghfirullahal 'azim.." Saat itu, azalea mula tahu. Bahagia itu perlu hadir dalam jiwanya sendiri, dengan berkat Cinta dan Kasih Sayang Allah, Tuhan semesta alam. Pengalaman pasti takkan terpadam, tetapi bakal menjadi guru terbaik untuk menjadi peringatan perjalanan ke akhirat. azalea memandang langit.. namun terlalu jauh untuk akalnya mencari-cari akhirat, tempat pulangnya yang pasti.. Akalku menggeledah langit Mengharap dapat mengintai akhirat Biar matlamat terpasak dalam-dalam Berpaksi dalam sebuah jiwa yang suram Aku mencari sebuah kisah langit Satu-satunya kisah yang dapat menguat langkah Kisah Syurga buat meninggi matlamat Kisah Neraka buat hati-hati sangkaan jiwa yang gundah Aku menadah cinta langit Menghayati limpahan Kasih Sayang Yang tak pernah putus walau seketika Hanya aku yang sering keras dalam merasa Kisah langit itu akhirnya kutemui Rupanya ada pada sesuatu yang setia dalam genggamanku Yang sering mengetuk-ngetuk jiwa Pada kalam rindu Tuhan Yang Satu Quran al-karim azalea menutup bukunya. Bagai bayu indah datang menyapa. Akhirnya bertalu-talu bahagia datang saat diyakini kasih sayang dan cinta Dia yang Menjadikan. Kisah suram rupanya pemula sebuah kerendahan jiwa pada Tuhan. Sebuah kisah yang menyentap jiwa untuk kembali larut dengan rintihan taubat. Untuk mensyukuri keindahan wasilah bahagia yang datang mendamba sebuah hati yang tulus ikhlas kerana Dia. Hati sudah tak pandai berbicara Terkesima dengan rahsia manisnya bahagia Terpegun dengan indahnya perancangan Tuhan Malunya aku pada ragu persangkaan Terima kasih Tuhan Kerana tak pernah membiarkan Kaki ini melangkah jauh Dari kepastian nikmat Syurga yang utuh... AZALEA..